Jalan Hidup yang Indah untuk lebih Bahagia dan Sehat dengan Memakai Hati...
Reiki Tummo adalah Jalan Indah Menuju Hidup lebih Sehat dan Berbahagia Melalui Hati
News
11 Maret 2017
Lokakarya Reiki Tummo 1, MedKun, 2 & 3A
Dengan Sepenuh Rasa Syukur dan Kebahagian, Padmajaya Bali Perwakilan Bali akan mengadakan Lokakarya Reiki Tummo 1, Meditasi, Kundalini, 2 dan 3A pada Tanggal 11-12 Maret 2017 Padmajaya Bali, Untuk Info Lokakarya bisa hubungi: 0817727835

» index berita
Testimonial
Yogi
Selamat atas terbentuknya Website PADMAJAYA 'Bali' ini. Semoga segala informasi yang disampaikan dapat menjadi sarana yang indah untuk membantu rekan2 Baru, Alumni maupun Umum untuk lebih sadar dan ta... detail

» lihat testimonial
» isi testimonial

#1 of 24 | prev product Prev - Next next product
printer email

product arrow Sukari, Samarinda, Sembuh dari Mastenia Grafis

Perkenalkan, nama saya sukari. Saya lahir di Madiun tanggal 14 juli 1965. Saat ini berdomisili di Samarinda. Saya bekerja di PLN cabang Samarinda sejak tahun 1987 hingga sekarang. Pada awal bulan juli 1997 saya menderita penyakit yang langka. Pada mulanya penyakit itu bermula dari rahang. Ketika saya makan atau mengunyah sesuatu dalam waktu singkat terasa capek dan tak kuat lagi mengunyah. Saya periksakan keluhan saya ini kedokter Spesialis Syaraf.
    Setelah didiagnosa, kesimpulannya adalah saya menderita Myastenia Grafis, yakni kelainan pada syaraf motorik. Selang setengah tahun sejak saya memeriksakan diri ke dokter, penyakit itu menjalar keseluruh tubuh hingga seperti orang yang menderita stroke.

Seluruh tubuh saya menjadi lemas sehingga tak kuat untuk melakukan aktifitas.

    Bahkan bernafas saja tersenggal-senggal. Membuka mata saja berat rasanya. Hingga saya dirawat di rumah sakit dan selalu di-injeksi dengan Suntikan Neostigmin/ Prostigmin. Pada mulanya hanya sekali dalam seminggu. Namun selang beberapa bulan dosis suntikan itu terus bertambah hingga harus dilakukan setiap hari. Pada tahun 1999 saya mendapat obat syaraf Mestinon produk dari Perancis dengan dosis 3 x25 mg. Kemudian awal tahun 2000 saya memutuskan untuk pergi berobat medis ke Surabaya, dirumah sakit Mitra Internasional.

Namun hasilnya tetap sama, bahkan disarankan untuk berobat ke Jepang.

    Mengingat biaya pengobatan terlalu besar bagi saya, akhirnya saya memutuskan untuk menjalani pengobatan alternatif saja. Selama bertahun-tahun, puluhan tabib dan para alim utama di Jawa Timur telah saya datangi. Namun belum menghasilakan perubahan yang berarti. Bahkan selang beberapa waktu, dosis obat Mestinon yang harus saya minum meningkat menjadi 2 jam sekali dengan dosis 2x 60 mg.
    Akhirnya saya mengambil keputusan untuk kembali ke Samarinda. Dirumah, tak jarang istri dan anak menangis karena saya sering tak sadarkan diri sampai berjam-jam. Hal itu terjadi apabila kondisi tubuh saya menurun. Saya merasa putus asa. Saya tak tahu mangapa harus mengalami semua ini.

Apakah ada rencana Tuhan di balik semua ini?

    Hingga suatu hari saya mendapat informasidari teman yang membaca surat kabar bahwa ada penyembuhan alternatif dengan Rei Ki Tummo. Maka saya menghubungi pengurus dan mengikuti lokakarya. Saat itu mengikuti lokakaryanya Rei Ki Tummo 1dan 2 ternyata kesehatan saya mulai berangsur membaik. Sejak saat itu saya saya menjalani latihan-latihan yang disarankan pada lokakarya Rei Ki Tummo dengan rajin dan tekun.
    Tiga bulan berikutnya saya ikut saya ikut lagi lokakarya Rei Ki Tummo Tingkat 3A. Pada bulan Juni 2007 dosis obat yang harus saya minum berkurang hingga sehari hanya 3x 1x60 mg. Pada bulan Agustus 2007 saya nekad berangkat sendirian tanpa didampingi keluarga melanjutkan Pendalaman Spiritual di Surabaya.

Sepulang dari sana kesehatan saya meningkat drastis. Sejak saat itu saya sama sekali tidak memerlukan lagi untuk minum obat syaraf apapun!

    Beberapa waktu kemudian, saya menjadi anggota” Mgers”( Mailing List Milis khusus bagi penderita myasthenia grafis) untuk membantu rekan-rekan yang juga terjangkit penyakit langka yang mematikan. Ternyata anggota milis tersebut cukup banyak, dan orang indonesia yang menjadi anggota 50 orang. Hampir setiap bulan ada saja anggota yang dipanggil Tuhan. Saya berusaha berbagi pengalaman dan mengajak mereka membuka hati melalui Yayasan Padmajaya. Ada beberapa anggota yang akhirnya mengikuti langkah saya, seperti Pak Yoga dari Bali, pak Ari yang bekerja di Flores dan beberapa rekan lainnya.
    Dengan sharing dan mengajak rekan-rekan membuka hati, kesadaran saya akan hubungan kepada Sang Pencipta pun meningkat. Saya merasa sangat perlu untuk membekali diri sebelum kembali ke Tuhan. Saya mendapati bahwa metoda-metoda dalam Rei Ki Tummo sangat praktis dan efektif untuk membuka hati, untuk lebih mengenal Diri  Sejati kita sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Saat ini, saya merasakan bahwa hidup saya menjadi lebih tenang, damai dan indah. Sholatpun menjadi sangat khusyuk karena saya merasakan hubungan yang indah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sangat jauh dibandingkan dengan sebelum saya mengenal Rei Ki Tummo.
    Pada bulan November tahun 2008, saya kembali mengikuti pendalaman Spiritual Yayasan Padmajaya di Nusa Dua Bali. Dan yang terakhir saya mengikuti Lokakarya Pendalaman Spiritual di Pacet Jawa Timur pada tahun Agustus 2009 yang lalu. Sebagai ungkapan rasa Syukur atas kasih Tuhan yang sangat besar kepada saya, saya menyatakan bersedia saat diminta untuk menjadi salah satu pengurus Yayasan Padmajaya Perwakilan Samarinda. Saya berharap dapat membantu sesama untuk membuka hati dan mendekatkan diri kepada Tuhan Ynag Maha Esa disamping hidup lebih sehat jasmani dan rohani. Demikianlah pengalaman dan sharing saya. Semoga dapat membantu bagi mereka yang merasa putus asa karena penyakit yang diderita.

Salam dalam Kasih Tuhan


Sukari  
Samarinda
Product Scroller
Information
Search
Search:

KLINIK YAYASAN PADMAJAYA PERWAKILAN BALI
Ruko Istana Regency Blok L-10
Jalan Bypass Ngurah Rai (sebelah Barat Lottemart)
Banjar Pesanggaran
Denpasar, Bali. 80223

(62 361) 727835, +62817727835
bali@padmajaya.com
www.Padmajaya.com/Bali


Toko Online